Pages

Friday, September 9, 2011

SAHABAT KECIL PART 2 (THE FAREWELL)


SAHABAT KECIL PART 2
(THE FAREWELL)
Penggal kedua kisah sang guru muda (Lailatul Qadar)

Sabtu, 14 Mei 2011 ,14.30 WIB
Hall Rafless city hotel, Pantai panjang.
Saya terpaku sendiri..lelah sekujur tubuh ini, dari kepala hingga ujung kuku jari kaki. Baru saja melaksanakan rangkaian rundown perpisahan dan pelepasan siswa –siswi angkatan 4 SMPIT Iqra’. Sahabat Kecil, Begitu saya menyebut mereka.
`Namun rasanya lelah ini terbayar tunai oleh puasnya hati setelah acara. Acara berlangsung meriah, Pilu, sendu dan sangat ber’hati’. Setelah hampir semingguan total berkutat dengan segala persiapan pelaksanaan kegiatan ini bersama beberapa rekan sekerja. Saya juga yakin, lelah yang mereka rasakan sama seperti yang saya rasakan. Namun, semua tersenyum. Karena lunas sudah lelah ini hari ini.
Di ruangan Hall hanya tersisa empat orang. Saya, Ustd Gopar, Ustadz GP, dan Ustadz Herizal. Beberapa yang lain sudah pamit duluan. Saya hanya terpaku, membiarkan lelah ini rontok sejenak, dan memandang deretan wajah close up di buku kenangan, lengkap dengan semua komentar mereka.
Dalam duduk ini pun, pikiran dan ingatan saya mundur beberapa bulan kebelakang. Ketika perjuangan kami tim angkatan 4 dan segenap sahabat kecil sedang panas-panasnya, menyongsong hari-hari terakhir di bulan- bulan terakhir kebersamaan.
Saya masih ingat, betapa perjuangan siang malam yang kami lakukan, seakan tiada mengenal lelah dan istirahat. Bahkan beberapa tercatat pernah roboh, dan sempat di opname karena kelelahan fisik. Namun, itu tak menyurutkan semangat kami. Meski terkapar sakit sejenak memberi warna hari-hari yang kami lalui.
Menatap wajah-wajah dengan senyum terpasang di buku kenangan itu, membuat hati saya tersentuh. Seakan ada nada melankolis mengalun mengiringi kesendirian siang ini.
Terlintas kembali dipelupuk mata saya, wajah-wajah imut yang tiga tahun lalu menapakkan kaki nya untuk pertama kali di sini, di istana hijau kampus SMPIT Iqra’ yang sempit, namun selalu memberi rasa dan nuansa yang sangat luas.
Terkenang juga slide bayangan-bayangan masa silam bersama mereka. Ketika saya juga pertama kalinya menginjakkan kaki di Istana ini (baca SAHABAT KECIL di note terdahulu saya). Satu persatu wajah mereka saya pandangi. Dan satu persatu pula cerita itu seakan teruntai kembali didepan mata saya. Indah memang, seru, Lucu, gokil, ramai, dan tak sedikit juga bagian melodramanya.
Ah, sudahlah. Berlama-lama mengenang masa lalu justru bikin saya makin sendu saja.
Dalam note kali ini, saya ingin menceritakan yang terjadi hari ini. Ini soal Acara Perpisahan angkatan 4.perpisahan ku dengan para sahabat kecilku.
Mari kita mundur sedikit ke beberapa jam sebelum saya duduk dan tenggelam dalam slideshow memory bikinan otak saya yang sedang mellow.
Seperti saya sebutkan diawal kisah ini, Hari ini, 14 Mei 2011, hari perpisahan bagi kami. Hari paling indah, namun paling sendu juga. Indah karena hari ini saya merasa optimisme yang semakin besar saat menatap wajah mereka satu persatu memakai pakaian jas dan seragam ungu. Terlihat sangat jelas gambaran besar dan luasnya masa depan mereka, disetiap raut wajah dan senyum mereka. Meski tak sedikit juga yang tak mampu menahan banjir bandang airmata. Airmata kesenduan yang mengalir tulus dari setiap manusia yang akan berpisah. Saya pun begitu juga.
Masih ingat di awal acara kami berseloroh “ Hayo kita bikin nominasi Ustadz and Ustadzah yang paling cepet nangis..!” “Hayo..SETUJU tadz”! begitu jawab mereka. Ketika itu (pagi tadi), gurat- gurat kesedihan belum begitu jelas tergambar di wajah kami. Masih bisa bercanda, dan sayapun masih bisa berteriak mengatur mereka supaya tertib dibelakang tirai ruang ganti kostum.
Dan begitulah, rangkaian mata acara pun dimulai. Saat Mereka bersama-sama menyanyikan lagu mars kebanggaan angkatan 4,  pelupuk mata saya perlahan terasa hangat. Terharu, bangga, campur aduk jadi satu. Ini pertanda akan sendu, begitu pikir saya.
Drama, puisi...
Dan pada bagian Paduan Suara bernyanyi, saya tak sanggup lagi menahan haru. Tumpah sudah butiran-butiran bening dari sudut mata saya, seperti air bah yang tak sanggup ditahan oleh tembok beton bendungannya.Saya Menangis. Benar-benar menangis. Tidak sekedar menitikkan air mata. Saya sesenggukan. Tangisan terdahsyat setelah mabit terakhir bersama mereka. Saya tak sanggup lagi menahan bangga dan haru di hati.
Bagaimana mungkin saya tidak tersentuh, lagu-lagu yang mereka nyanyikan itu adalah lagu-lagu yang sudah seperti OST (Original soundtrack) Angkatan 4. Lagu-lagu yang sangat sering kami dengar dan bahkan nyanyikan bersama di sela-sela pembelajaran atau di waktu luang kebersamaan. Yang bikin saya sempat agak malu, ternyata di belakang tirai, beberapa tholibat telah menyiapkan kamera handphone dan digital. Saya menangis, Dan Saya dipotret ketika sedang menangis!.
Kata mereka “ Yes, pemenang guru paling cepat nangis sudah kita dapatkan!”... saya tersipu, ternyata saya termakan omongan sendiri. Gagal sudah rencana untuk tetap sok tegar dan sok kuat di depan mereka, seperti yang biasa saya lakukan selama ini. Mereka malah tersenyum dan nyengir kuda, menawarkan tissue untuk menghentikan isak tangis sesenggukan bagaikan  anak kecil yang meluap dari mulut, mata dan hidung saya.
Rasa haru semakin menjadi saat lagu “Hymne Guru” melantun merdu dari mulut-mulut yang sering mencandai saya, yang sering mengajak saya berkelakar dan berbual-bual. Sekali lagi, Bangga dan terharu.
Namamu akan selalu hiduuppp.......dalam sanubariku......
Sbagai prasasti trimakasihku... tuk pengabdianmu...
................
Dan yang ini, semoga sedikit hadirin yang menyadarinya, ketika membacakan nominasi penghargaan, beberapa kali saya menarik air bah yang hampir tumpah di hidung dan mata saya. Sangat bangga melihat mereka melangkah dan tersenyum mengangkat plakat penghargaan yang didapat, mewakili semua teman dan sahabat nya yang sudah sama-sama tinggal dihati saya. Disamping itu, saya masih berusaha mengumpulkan kembali emosi yang sempat teraduk dan terisak sebelumnya.
Dan tibalah di bagian yang paling menguras emosi dan ingatan. Slideshow berisikan photo dan lagu memory.
Ada sedikit cerita tentang Slide memory ini. Isinya, tentu saja photo-photo angkatan 4. Saat proses pembuatan video slidenya, saya sempat kebingungan memiilih photo mana yang paling merefleksikan keceriaan dan kebersamaan angkatan 4. Bukan karena stock photonya yang terlalu sedikit, Tapi sebaliknya. Sangat Banyak. Bayangkan, total photo dan video yang didokumentasikan dari angkatan 4 mencapai hampir 24 GigaByte. Banyakkan?.. Namun sayang, sangat sedikit dokumentasi ketika kelas 7. Untungnya beberapa photo kelas 7 cukup representatif.
Kembali ke bagian sendunya. Alunan Kiss The Rain nya Yiruma Berbalut Seuntai Pesan perpisahan dibacakan Ilham dan Rara membuat nuansa sendu makin menjadi. Dan sepertinya memang, saya spesialis menelurkan karya-karya sendu, lihat saja puisi ini.., dengan segala feel perpisahan, saya berhasil menuliskan bait-bait yang tidak nyastra di bawah ini untuk mereka tampilkan.

SEUNTAI PESAN PERPISAHAN
Sahabat..masih ingatkah  kau..
Tiga tahun yang lalu...
Ketika kaki mungil kita dengan lugunya ..
Menginjakkan tapak di gerbang istana ini..
Ketika Hati kita berkata
Ini rumah kedua bagiku

hari demi hari kita lukis....
Dengan diorama  senyum..,,tawa,...bahagia..
Dan lembar kelam pertengkaran kecil...
Hingga airmata menganak sungai di wajah-wajah lucu kita....

Masih ingatkah kau...
Ketika kita dengan manjanya bergelayut dipundak guru-guru kita..
Ketika dengan gagahnya kita mendebat
 ide besar pemikiran mereka..
Yaa,, ketika itu kita masih lugu..masih anak kecil..

Sahabat....
Hari ini aku juga ingin kau ingat..
Bagaimana dengan sabarnya...
Mereka..para guru kita..
pelita hati  dan jiwa....
Menghadapi segala tingkah polah kita..
Menyelesaikan segala permasalahan ...
Menampung semua  keluh ...
Dan satu lagi..,ketika kita mulai mengenal cinta...
Mereka dengan indahnya mengarahkan kita...
Agar langkah kita tidak tersesat..
Pada apa yg kita sebut cinta..

Hari ini, 14 mei 2011
Aku yakin...semua berusaha menahan buncah airmata..
Karena ternyata sunnatullah didepan mata
PERPISAHAN..
Ya, perpisahan..
Berat memang rasanya.. .
Masih begitu sayang kita pada istana hijau itu
Sungguh sangat  cinta kita pada wajah-wajah tulus mereka..
Namun...karena cinta yang sesungguhnya itulah ...
KITA HARUS PERGI...

Kawan.... bening airmata ini.
Tak kuasa kubendung lagi..
Ingin rasanya lebih lama hati...
Merajut  menguntai hari...

Lumrah saja bersedih kawan..
Sangat manusiawi berduka rasa..
Namun Tak perlu ragu ...
Bukankah mereka ada dihati kita..
Bukankah doanya selalu menemani setiap helai nafas kita..
Tak perlu ragu... tak perlu gelisah...
Buang semua gundah...
Pergi dan kembalilah dengan cinta....

Sahabat...bundo...,kakak...,bapak...emak,...
Ustadz dan ustadzah...
Untaian indah kisah kita..telah membuktikan bahwa...
KITA UNTUK SLAMANYA....

Dan satu lagi, Bagian yang membuat tampilan slideshow makin manis dan menyentuh, Lantunan Suara dari trio FAY (Fadhil, Adnan, Yafie) membawakan Lagu Sherina “Lihatlah lebih dekat” sebagai back sound slideshow.
Cerita dibalik munculnya lagu ini di panggung perpisahan: saya sangat suka dengan perpaduan suara yafie, adnan dan fadhil, perpaduan rasa, tekhnik vokal, dan kemerduan.  Suara adnan yang bagus serta tekhnik vocal nya yang cukup matang, warna dan kharakteristik suara tipis, unik  nan tinggi milik yafie, serta suara renyah tenor milik fadhil, menjadikan saya sangat tertarik membawa mereka untuk rekaman di studio. Dan jadilah, beberapa hari sebelum perpisahan, saya melatih mereka, dan menemani mereka Rekaman di Sehati FM, radio yang kebetulan milik keluarga Adnan.
Kontan, indahnya alunan nada perpisahan dari mereka bertiga menuai pujian dan rasa bangga dari banyak rekan, sahabat, orang tua, dan penonton. Ah.., andai saja di jakarta, mungkin kondisinya akan jauh berbeda, mungkin mereka trio penyanyi terkenal, mengalahkan Smash  (ngayal mode:On saya kumat hehehe).
Gemuruh tepuk tangan terdengar memenuhi ruang hall Rafless city hotel, seiring dengan fading outnya Suara mereka bertiga di akhir lagu. Masih, BANGGA.
Ini lirik lagunya..
Lihat lah lebih dekat

Hatiku sedih

Hatiku gundah

Tak ingin pergi berpisah

Hatiku bertanya

Hatiku curiga

Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini

Sahabat yang selalu ada

Dalam suka dan duka

Sahabat yang selalu ada

Dalam suka dan duka


Tempat yang nyaman

Kala ku terjaga

Dalam tidurku yang lelap


Pergilah sedih

Pergilah resah

Jauhkanlah aku dari

Salah prasangka


Pergilah gundah

Jauhkan resah

Lihat segalanya lebih dekat

Dan 'kubisa menilai lebih bijaksana

Mengapa bintang bersinar

Mengapa air mengalir

Mengapa dunia berputar

Lihat segalanya lebih dekat

Dan 'kuakan mengerti

Pada bagian akhir slideshow, Lagu Rio “Rindukan dirimu” mampu membuat banyak penonton ikut larut dan bernyanyi seraya tetap menyaksikan layar yang menyajikan photo- photo kenangan angkatan 4.dan saya sempat melirik, banyak tholibat menitikkan airmata sambil bernyanyi. Lagu ini juga adalah lagu yang sangat sering kami ulang dengar bersama ketika study tour dan bahkan saat pembelajaran di kelas.

Akhirnya, acara ditutup dengan bersalaman dengan murid dan segenap wali murid yang hadir.
Kembali..,Terisak sesenggukan,walau senyum tetap terpasang manis dibibir kami. Pelukan perpisahan seakan tak ingin lepas. Ucapan “semoga tetap jadi yang terbaik ya nak”..meluncur berulang kali dari bibir saya...

Ada yang lucu.., saat barisan tholibat paling akhir, muthiah cifa, reta dan dita didepan saya,.. entah dapat ide dari mana,spontan saja saya berkata “Kita ketawa aja yuk..”... spontan juga mereka menjawab ‘Yuk..” jadilah, rangkaian bersalaman dengan siswa ditutup dengan adegan “TERTAWA SAMBIL MENANGIS ALA ORANG CUEK BEBEK” hahaha.. masih sempat aja bercanda. Tandanya kita emang gila hehehe.

Ah..,, sahabat kecilku, waktu sudah sangat dekat menuju hari pengumuman kelulusan.
Semua upaya dan kerja keras telah kita lakukan.
Do’a, tangis, tawa, canda, kelakar, tengkar,.. semua tak akan pudar dari hati kita.

Bersamamu..
Kuhabiskan waktu...
Senang bisa mengenal dirimu...
Rasanya semua begitu sempurna..
Sayang untuk mengakhirinya......

Hufht... saya tersentak sadar.
Saya harus pulang. Tubuh ini harus segera di rebahkan. Jika tak ingin benar-benar terkapar kelelahan..
Saya bangkit, meninggalkan hall rafless city hotel.
Menggendong tas yang menggembung .
Tak ada yang tahu selain kak ghopar, bahwa di tas saya, ada bingkisan kado dari salah seorang siswa. Terimakasih sahabat kecilku, karena kau telah menganggapku layak dan pantas menerima bingkisan ini.

14 Mei 2011, 23.53 WIB
Akhirnya tertuliskan juga dalam satu jam.
Sampai beberapa saat cerita ini selesai saya tulis, sms dari mereka masih berdatangan. Isinya: salam perpisahan, minta maaf, ucapan terimakasih, atau sekedar tanda L sebagai tanda sedih akan berpisah.
Dua minggu ke depan, adalah dua minggu mendebarkan. Menanti keputusan kelulusan. Dan sementara itu, kebersamaan masih bia kita nikmati. Besok, dapat undangan ikut ngumpul dan nginap di rumah salah satu murid bersama beberapa sahabat kecil lainnya.
Huufffhttt...
J L


*****************Untuk segenap Pembaca, anda mungkin berpikir saya terlalu sendu dan melankolis, mohon maafkan saya, semata ini adalah ungkapan perasaan yag saya rasa lebih baik jika saya tulis dan bagikan. Tak Pernah ada niat untuk menceritakan apa yang tak pantas. Semoga kita semua bisa mengambil himah positif dan nilai luhur dalam cerita ini.aamiin.****************************************************





1 comment:

  1. i really really really memorized that moments .. Unforgettable really it's hard .. hope we are still together and Allah still mix up us into a great family ever then He's confronting us into his heaven together.. =)

    ReplyDelete