Pages

Monday, September 12, 2011

Sahabat Kecil : Journey to Lebong By Lailatul Qadar


Sahabat Kecil
Journey to Lebong
Ini adalah catatan perjalanan saya dan beberapa sahabat kecil ke daerah ujung Propinsi Bengkulu. Lebong.
17 Mei 2011
Hari Ulang tahun saya.
Petang.
Sejak Siang saya sudah dapat SMS dan telepon dari beberapa sahabat kecil, isinya : “Ustadz, Ikut ke Lebong?”..,dan bahkan malam harinya saya dapat telepon dari salah seorang wali murid, Bunda Dhamar  (yang kebetulan anaknya sangat akrab sama saya). Beliau minta bantuan untuk menemani anak-anak yang akan berangkat ke lebong. Butuh ada yang lebih dewasa untuk menemani dan menjaga mereka selama perjalanan. Dengan kata lain: minta saya ikut ke Lebong.
Setelah beberapa kali saya pikirkan, akhirnya saya simpulkan : ini kan Hari Ultah saya, why Not?Saya Ikut. Saya mengiyakan permintaan dan ajakan mereka.
Permasalahannya Cuma satu: Besok (rabu, 18 Mei 2011), saya mesti masuk sekolah dan kerja. Namun kebetulan belum ada kelas, jadi saya nekad mengupayakan izin ke pihak struktural. Kalimatnya begini lebih kurangya, “ ustadz Adi yang baik,, ana izin besok ya.., khan ana belum ada kelas,, truss,, hari ini ana Ultah,.. ana diajak jalan kelebong sama beberapa anak. So, Boleh ya...?:(..,, anggap aja hadiah Ultah dari antum...”
Belum dapat respon dari Mr. Boss.
Sementara, saya mengiyakan ajakan anak-anak. Menyepakati jam keberangkatan.
Rabu, 18 Mei 2011
Pagi-pagi saya sudah tiba di sekolah. Begitu ketemu kepala sekolah, niat saya untuk menyampaikan hajat izin. Tapi ternyata beliau respon duluan sebelum saya tanya. Dan tentu saja: Saya diizinkan Berangkat. Tapi Cuma satu hari.....:(. Coba  bayangin, perjalanan dari bengkulu ke lebong aja makan waktu 4-5 jam.mana kuat sopirnya bolak-balik PP dlm waktu sehari saja.. hikshiks.. gimana dongg???
Hayoo putar otak lail....(!@!#%$%^&**())!(&^^!&*!(__(*&&_ simbol disebelah untuk menggambarkan proses otak saya berpikir hehehehe).
Pukul 10.00 WIB
Semua sudah berkumpul di rumah Dhamar. Siap Berangkat.
Ohya, saya belum menceritakan siapa saja yang ikut ya..
Di rombongan kami (satu mobil saja) ada Saya, Dhamar, Arief Ji’unk,Ilham  I am, Naufal fhall, nando mungill,, yafie mungill, dan Jihoo aditya. Sementara lebih pagi dari kami, Jiland mungill, Fadhli lebonk, Usman Ali, dan Aditya Laka telah berangkat lebih dulu naik angkutan Travel. Jadi total yang ikut adalah 12 orang. Satu lagi, kak Fadni, yang setia jadi driver kami. Kebetulan mobil yang kami bawa adalah mobilnya dhamar. Jadi, drivernya diamanahi oleh Ayah damar untuk menemani perjalanan ini.adapun alamat yang akan kami tuju adalah Rumah Fadli, yang terletak dipinggiran kota Lebong. Ohya, Si Fadli hari ini, 18 Mei, juga berulang tahun. Cuma sehari lebih muda dari saya yang lahir tanggal  17 Mei..(...:^_^...:)
Pukul 10.30an WIB
TAKE OFF time.
Mobil Avanza meluncur santai dari bandara Dhamar Air Force (....^_^...),,
Didalamnya, Suasana semula santai,, sekitar 15 menit perjalanan, dimulailah nuansa jalan-jalannya. Kamera dikeluarkan, makanan ringan mulai menari diujung jari, eskrim,permen, dan tentu saja, Air Mineral untuk mencegah dehidrasi selama perjalanan yang akan ditempuh selama 4 hingga 5 jam.
Sepanjang perjalanan, suasana gokil di warnai candaan-candaan lucu dan anti garing dari kami pun terlontar spontan. Mulai dari mengkritisi lagu yang diputar damar selaku operator, mencandai yafie tentang para penggemarnya, ilham dengan kalimat khas nggak jelasnya ‘tahu kan?’, hingga tenera yang khas dengan gaya jakarta gaul yang nggak lucunya. Kontan saja, perjalanan jadi terasa seru dan menyenangkan. Dan om driver, dengan setianya menjadi nakhoda mobil dengan teliti dan hati-hati. Sempat beberapa kali berhenti dipinggir jalan untuk memberi kesempatan bagi yang kelelahan untuk beristirahat sejenak.
Tiba di curup, spontan saja muncul ide untuk mampir di salah satu objek wisata terkenal di Bengkulu, Danau Mas. Disepakati, mampir sebentar untuk menikmati makan siang di tepi danau. Sampai disana, niat untuk sholat dzuhur dan ashar terpaksa dipending, karena tidak ada air bersih yang bisa digunakan. Sempat heran juga, masa diobjek wisata sekeren ini nggak ada ready stock air bersih?. Bahkan musholanya terkunci rapat.
Usai menikmati makan siang yang telah dibekali para bunda dari Bengkulu, agenda dilanjutkan dengan photo-photo dan narsis session di tepi danau. Dan, bagaimana kalau kita naik perahu saja? Semula beberapa menolak. Alasan mereka, nggak ah...ini..itu... , padahal pada bokek semua heheheh (masa traveling gak bawa duit memadai,, hahaha_buka kartu_). Tapi akhirnya bersedia juga deh naik perahu. Perahu akan mengelilingi danau satu putaran. Tidak seru kalau tanpa kejadian tidak terduga kan?? Jadilah, di tengah perjalanan mengitari danau, perahu macet. Mesin tiba-tiba saja mati. Dan kejadian tidak hanya satu kali, tapi dua kali.bisa bayangkan, gimana cemasnya, baru pertama kali naik perahu didanau mas, malah ada kejadian yang bikin deg-deg seer seperti ini. Tapi dasarnya narsis, momen diatas perahu dimanfaatkan dengan tepat dan efektif oleh kami, para coverboy (hehehe) untuk berpose dengan gaya paling keren, gokil, dan paling cool. Saya yakin, bapak pengendali perahu pasti mikir “weeww narsis bangeeett seeh ni orang-orang..!” hehhee.tapi, who cares?
Dan satu lagi, ternyata, semua momen diatas perahu, direkam oleh si yafie secara diam-diam menggunakan kamera handphonenya (walaupun video didominasi oleh sendal, kaki, pinggiran kapal, dan air hahaha)..si yafie emang pinter bikin video amatir, mana gambarnya jungkir balik, muter, miring kiri kanan, nunggit, hehehe. Benar-benar video amatir paling amatir sejagad raya hehehe._peace fie_!
Puas menikmati debar-debar perahu macet di danau mas, perjalanan pun kami lanjutkan. Menuju lebong. Perjalanan masih akan ditempuh sekitar dua jam. Masih saja, candaan dan lawakan happy terlontar dari mulut-mulut kami, meski sesekali sempat terlelap. Untung kak fani 9drivernya) nggak terlelap.Kalo terlelap, bisa bahayun hehehehe..
Pukul setengah 6 petang kami tiba di desa Tujuan. Desa Kota Agung, tempat domisili ayah dan ibu situan rumah, Fadli.
Desa ini adalah desa yang termasuk paling dekat dengan kaki bukit. Desa terujung. Suasananya asri, meski jalan rayanya sempit, namun udara segar dan keramahan cuaca langsung menyambut kami dan membuat kami tersenyum sembari menghirup udara segar pedesaan, yang tentu saja tidak didapat di perkotaan.
Desa ini dikelilingi oleh dua sungai, satu sungai besar yang membentang sepanjang sisi jalan raya menuju rumah fadli, satu lagi disepanjang bagian belakang desa. Sumber air yang cukup dimanfaatkan dengan baik oleh penduduk setempat untuk irigasi persawahan yang membentang luas dibelakang deretan rumah yang masih khas nuansa pedesaanya. Selain itu, air pegunungan juga dimanfaatkan untuk pengembang biakan ikan air tawar. Mulai dari ikan mas, nila, mujair, lele, hingga ikan patin.
Turun dari mobil, kami langsung disambut senyum ramah khas dari orang rejang, senyum ramah ibunya fadli. Kamipun langsung berbenah, madni, istirahat sejenak hingga magrib tiba.
Dan si Jiland, Usman, dan Aditya Laka serta fadli yang telah tiba lebih dulu, telah menunggu dilantai dua.
Usai sholat magrib dan makan malam, kamipun mengitari desa dengan jalan kaki, tujuan awalnya untuk beli kartu perdana. Khawatir akan keamanan anak-anak kota ini, saya pun memutuskan ikut. Sepanjang jalan menuju counter HP, saya serasa menyusuri jalan dikampung halaman saya sendiri, desa kali di Argamakmur. Bagaimana tidak, bahasa rejang yang dipakai disana sama persis dialeknya dengan bahasa rejang desa saya yang menjadi bahasa ayah ibu saya di desa.
Ohya, disepanjang perjalanan, sempat diwarnai oeh ulah iseng si Jiland yang berkata “ceweek”, “ayuk..”, pada beberapa gadis desa yang berpapasan dengan kami.
Pulang, nongkrong dihalaman sebentar, kami pun memutuskan untuk beristirahat di lantai atas. Niat awalnya sih, segera istirahat tidur. Tapi tidak jadi, agenda dilanjutkan dengan ngobrol ngalor ngidul soal ini itu. Mulai dari soal persahabatan, cinta, hingga soal hantu.. hii syerem. Dan, si nando dan i am adalah yang paling setia mendengar saya bercerita pengalaman masa lalu saat ABG seumuran mereka.
TIDURRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR.............

19 Mei, Kamis Pagi.

Bangun, sholat subuh, ngobrol lagi, sarapan.
Perjalanan Picnic pun diimulai.
Pukul 9.30 kami pun diantar menuju sungai Air umban. Sungai dengan air jernih, dingin, dan kemiringan yang lebih dari sungai di perkotaan. Maklu, ini sungai dikaki bukit, jadi agak curam dan deras.
Kami memilih bendungan sebagai tempat mandi. Airnya tidak dalam, namun deras.
Dan ini tempat kami bakar ikan. Sebuah Gua dibawah Batu besar tepat dipinggir sunagi. Sebenarnya bukan kami yang memanggang ikan, tapi bapak yang menjadi pemandu arah kami.tega ya.. hehehe. Kami justru sibuk seru-seruan mandi disungai. Menikmati dinginnya air asli kaki bukit.
Ada cerita lucunya juga loh, saat kami memutuskan menyebrangi sungai yang agak deras, beberapa ketakutan untuk menyebrang, takut hanyut, hehehe..masuk akan memang, dikota tidak ada sungai yang sederas dan securam ini. Akhirnya, bergotong royong saya dan fadli membantu yang ketakutan untuk menyebran (maklum, saya orang kampung juga, jadi sama yang namanya sungai sudah lumayan akrab, hehe).
Acara mandi kami hentikan sejenak untuk menikmati ikan panggang yang telah matang. Ditemani nasi putih, sambal, kecap dan beralaskan daun pisang serta dedaunan lebar yang saya petik dipinggir sungai. Sungguh pengalaman makan yang alami dan enak. Masing-masing memilih posisi nyaman untuk makan. Tentu saja, dibebatuan sungai yang besar. Nikmat sekali. Alhamdulillah.
Usai mandi, phot-photo dan narsisan, kamipun pulang kembali ke rumah fadli.
Istirahat sholat dhuhur.
Perjalanan kami lanjutkan. Kali ini menuju danau picung. Kurang lebih setengah jam perjalanan dari rumah fadli. Ditempuh dengan naik mobil pick up bak terbuka milik ayah fadli.   Didanau picung, kami naik bebek-bebek. Janjinya Cuma sepuluh menit persekali naik, tapi jadi molor sampai setengah jam persekali naik.
Sepulang dari danau picung, kamipun makan siang dan berkemas. Bersiap- siap pulang ke bengkulu.
Kembali, senyum khas orang rejang mengantar kepergian kami hingga ke halaman. Sementara jiland, laka, dan usman, pulang keesokan harinya (hari jum’at).
Berbeda dengan perjalanan berangkat, kepulangan diwarnai dengan adegan mabuk-mabukan hehe. Maksudnya ada yang mabuk kendaraan. Si nando, muntah tiga ronde, diikuti yafi muntah satu kali.
Yang lucu, meski muntah berkali-kali, si nando tetap siap untuk bernyanyi mengikuti alunan dari car stereo yang diputar damar.masi ingat lagunya
“ hidup ini mahal bila dipikirkan...nanananannaa”..
Ups, satu lagi, ada yang tidur dimobil sampai ngorok.untuk menjaga perasaan, maka nama dirahasiakan.
Hehehe
Sementara arief, i am dan naufal asyik nertiga dikursi belakang dengan semua kegokilannya.
Pukul 21.30an kamipun tiba di kota bengkulu. Pemberhentian pertama adalah rumah damar. Disini saya dan damar di dro out. Saya pun akhirnya memutuskan tidak pulang kerumah, tapi menginap dirumah damar. Terlalu capek untuk bawa motor.

Sahabat kecil dan pembaca sekalian,, itulah selengkapnya laporan perjalanan piknik kami ke lebong.
Seru memang.
Sangat indah untuk di kenang.
Jadi hadiah yang sangat indah untuk saya dan fadli yang berulang tahun hanya satu hari bedanya.
Semoga kita semua bisa memetik hikmah dari cerita ini.




No comments:

Post a Comment