Dear onliners..
Buat siapa aja yang baca..
Ini guru gaul menurut gue.hehe.
Guys, sudah sering denger
istilah ‘Guru gaul’ kan? Pastinya.. hehe. Tapi istilah ini (dari dulu sampai
sekarang) masih aja sering ketutup alias kalah sama istilah “guru killer, guru
pelit nilai, Guru sangar” atau istilah-istilah ‘mengerikan” lainnya.
Nah, pada kesempatan ini,
saya ingin share apa yang ada dipikiran Saya soal GURU GAUL (guru yang baik).
Temans, Menjadi guru
adalah profesi mulia, namun sungguh berat. Kata salah seorang tentara sih “saya lebih siap dan sanggup mengahadapi
hujan peluru dan bom dari pada menjadi guru”. Masuk akal memang. Menjadi
guru memang “lebih berat” dari pekerjaan yang lain. Berat karena harus
menghadapi objek hidup yang dinamis, anak-anak usia remaja dan ABG yang
tingkahnya bermacam-macam, dari bawel, rewel, pendiam, hingga supel. Berat
karena beban moral yang harus dipikul sebagai pendidik, yang misi utamanya
adalah merubah yang jelek jadi baik, yang kurang jadi lebih, mengisi yang
kosong dengan kebaikan, dll.
Memang sih, kalo kita
menganggap pekerjaan Guru itu berat, maka niscaya kesulitan dan hambatanlah
yang akan kita rasakan. Tapi kalau dibawa enjoy, pasti kita akan menemukan
sejuta hikmah indah dibalik setiap usaha dan doa kita bersama murid-murid
(anak) kita.
Dulu, dulu banget, ketika
saya masih usia sekolah, saya sering sekali mengeluhkan apa yang saya temui dan
lihat pada guru-guru saya. Ibu yang ini Cuma ngasih tugas dan malas jelasin,
bapak yang itu sangar banget, bapak yang itu tegaan dan kejam banget. Pokoknya
males dan ogah belajar sama mam itu. Sering kita merasa kecewa pada guru-guru
kita. Manusiawi memang.
Nah, sekarang, hari ini,
Paradigma “GURU JADUL” sudah
semestinya kita “hapus”. Sudah
saatnya para guru tampil dengan nuansa yang “sedikit berbeda” namun penuh
hikmah. Setuju?
Berikut pendapat saya
tentang gimana layaknya guru yang “Gaul”.sekali lagi ini pendapat, jadi mungkin
masih banyak kriteria yang belum saya dan temans miliki. Karena itu, yuk kita
coba baca dan pikirin.siapa tahu ada benernya dan ada manfaatnya.
Guru gaul itu (nomor urut tidak
menentukan skala prioritasnya):
·
Memahami materi yang disampaikan. Artinya siap secara
administratif dan kualitas. Jangan sampai tidak memahami apa yang disampaikan
pada siswa. Kalaupun suatu ketika memang kebetulan kurang paham, maka JUJURLAH
pada siswa, jangan berbohong. Toh kita sebagai guru juga manusia biasa. Bisa
jadi khilaf atau lupa.
·
Dari segi penampilan. Guru gaul haruslah rapi, tapi
tetap modis. Modis dalam artian pilihan warna pakaian dan kombinasi asesoris
yang cocok, tapi tidak norak. Meski pakaian resmi dan batik jadi “seragam” yang
wajib, tapi tetaplah, pilihan warna and potongannya mesti sesuai dengan usia,
Jangan sampai justru pakaian yang dikenakan malah bikin kita jadi ketuaan (umur
25 tapi keliatan kayak 32, hehehe). Jangan kenakan pakaian yang selalu bermotif
gelap. Yang cerah dan bersemangat sesekali perlu dicoba. Potongan rambut,
jangan monoton, masa selalu belah tengah/sisir samping. Sesekali model
sasak/acak perlu dicoba. Penting loh untuk membuat anak merasa tertarik dengan
penampilan kita. Karena kalo ‘outer look’ nya aja udah keren, maka anak-anak
akan selalu tertarik untuk dekat dengan kita.
bagi yang akhwat, pilihan warna
jilbab dan baju muslimah yang dikenakan mestilah yang bikin anak-anak nyaman
melihatnya. Masa hari gini, ustadzah atau ibu gurunya tampilannya jadul hehee.
Meski memang banyak batasan bagi perempuan dalam hal berpakaian, namun tidaklah
menjadi hambatan untuk tetap tampil maksimal dan segar, dan tetap syar’i.
·
Guru Gaul itu PEDULI
dan PERHATIAN. Berusahalah untuk
selalu peduli pada anak didik. Dekatlah dengan mereka. Dekat tidak hanya dalam
aktifitas belajar dikelas. Tapi juga secara emosional. Berusahalah memahami
semua permasalahan mereka, caranya dengan memposisikan kita pada kondisi
mereka. Jangan hanya dekat dengan siswa ketika mereka bermasalah.namun ketika
mereka bahagia, perlu juga untuk selalu dekat dan menjadi bagian keseharian
mereka. Berusahalah untuk tahu dan mengerti segala “trend” yang sedang mereka
gandrungi, agar kita bisa mengarahkan mereka supaya tidak salah memilih apa
yang mereka suka. MENDENGAR, adalah hal penting yang kadang kita lupakan, dan
semestinyalah kita mendengar segala keluh kesah mereka. Menampung segala
permasalahan mereka, dan berusaha memberi solusi terbaik dengan cara kita.
Tentu jangan lantas menyalahkan mereka padahal kita belum mengerti apa
sebenarnya yang mereka rasakan. Jadilah tempat curhat yang baik bagi anak
didik. Jangan men-judge anak jika belum mendengar semua cerita dan mengetahui
kondisi mereka. Kita dulunya juga seperti mereka kan, bahkan mungkin dulunya
kita lebih parah/lebih nakal daripada mereka.
Bagi beberapa siswa, kadang guru yang
peduli terkesan “SKSD”, sok ikut campur, sok tahu “sotoy” , cerewet, dll. Namun
jangan lantas menyerah ketika dicap begitu. Percaya dan yakinlah, Jika kita
memberikan segala kebaikan pada mereka dengan tulus, suatu saat mereka akan
menyadari betapa apa yang sudah kita lakukan untuk mereka sangatlah bermanfaat.
Kebaikan memang kadang pahit dan berbungkus debu. Bukankah tidak ada obat
penyakit parah yang tidak pahit? Pahit namun justru menyembuhkan.
Intinya, jadilah guru yang juga
merangkap kakak, abang, ayah, ibu, paman, saudara dan sahabat bagi anak didik
kita.
·
Guru Gaul itu Pandai berimprovisasi. Artinya dalam
melaksanakan tugas, tidak melulu menggunakan cara-cara lama atau jadul. Cara
dan gaya kekinian, yang sesuai dengan usia anak didik, sangatlah dibutuhkan.
Dari segi bahasa misalnya: tidak lah mesti selalu menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar sesuai EYD,. Penggunaan bahasa gaul, bahasa daerah sesuai
dengan yang digunakan anak didik terbukti akan membuat anak didik lebih dekat
dengan kita. Tapi meski demikian, bukan berarti lantas melupakan bahasa santun
dan formal dalam pembelajaran. Intinya, ketika santai, pakailah bahasa santai
dan gaul. Namun ketika dibutuhkan formalitas, maka ‘code switching’ mestilah
digunakan dengan sempurna. Sebagai contoh, saya, sering jadi seperti orang yang
berumur 17/18 tahun supaya nyambung dengan siswa, namun saat dibutuhkan, saya
dengan gampang bisa kembali menjadi guru berusia 25 tahun.
·
Guru gaul tidak berarti tidak pernah marah. Ketika
memang dibutuhkan ketegasan, tegaslah! Tetapi ingat, tujuan kita berkeras/tegas
semata agar mereka jadi lebih baik, dilandasi rasa sayang dan keikhlasan. Guru
yang baik bukan berarti tidak pernah marah. Tapi ingat, setelah tegas, keras,
marah atau apapun bistilahnya itu, jelaskanlah pad siswa bahwa kita begitu
semata karena sayang, supaya semoga tidak ada dendam dihati siswa. Supaya dia
bisa memetik hikmah kebaikan dari apa yang kita lakukan.
·
Guru Gaul itu selalu mengingatkan anak didik agar
tidak keluar dari koridor kebaikan. Memang sih, gurupun manusia, tak lepas dari
salah. Namun, untuk membuat anak menjadi lebih baik, kenapa mesti menunggu
kesempurnaan?
·
Guru Gaul dan baik tidak hanya mengajar, namun juga
belajar dari siswa. Belajar dari keluguan dan semua tingkah mereka. Supaya bisa
lebih bijaksana dalam menyikapi segala perubahan yang ada pada mereka.
·
Guru Gaul Mesti kudu wajib Melek Tekhnologi. Ini
dimaksudkan suapay kita juga tetap bisa memantau perkembangan anak didik tidak
hanya di dunia nyata, namun juga didunia maya. Seperti kita sama-sama tahu,
pesatnya perkembangan tekhnologi sangat rawan membawa keburukan bagi anak didik
yang masih labil dan belum bisa menetukan pilihan terbaik untuk mereka. Pernah
dengar gak, “hari gini gak punya facebook? hehehe” . Disamping tujuannya
untuk memantau anak didik didunia maya, kita juga bisa menebarkan pesan-pesan
kebaikan melalui akun mereka. Disamping itu jug, kita bisa meningkatkan
kualitas kita tentang technologi. Facebook hanya salah satu contoh. Masih
banyak hal yang terkait technologi informasi yang mesti seorang guru kuasai.
Agar tidak jadi GGTGL (Guru Gagap Tekhnologi Gitu Looh..). disamping itu, kita
juga bisa bersantai dengan adanya dunia maya.
·
Yang paling utama dari semuanya adalah : Guru Gaul
selalu berusaha memperbaiki kualitas diri , hati dan keimanannya, serta selalu
mengajak anak didik untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.
Okay guys,, sampai saat
ini itu dulu beberapa definisi dan kriteria GURU GAUL (guru yang baik) versi
saya. Sebenarnya masih banyak didalam kepala, hanya tidak semuanya bisa saya
bahasakan dalam tulisan ini. Mohon maaf bila tidak sesuai dengan definisi
temans semua.
Semoga kita senantiasa
belajar dan memperbaiki diri kita. Dan yang terpenting, semoga kita senantiasa
tulus dan maksimal dalam mendidik para harapan masa depan kita. Menemani mereka
para belahan jiwa kita, saudara dan anak-anak yang tuhan titipkan pada kita.
(Bengkulu, 7 juni 2011, 09.27 WIB)
No comments:
Post a Comment