Pages

Thursday, September 8, 2011

Guru Gaul Guru Baik



Dear onliners..
Buat siapa aja yang baca..
Ini guru gaul menurut gue.hehe.
Guys, sudah sering denger istilah ‘Guru gaul’ kan? Pastinya.. hehe. Tapi istilah ini (dari dulu sampai sekarang) masih aja sering ketutup alias kalah sama istilah “guru killer, guru pelit nilai, Guru sangar” atau istilah-istilah ‘mengerikan” lainnya.
Nah, pada kesempatan ini, saya ingin share apa yang ada dipikiran Saya soal GURU GAUL (guru yang baik).
Temans, Menjadi guru adalah profesi mulia, namun sungguh berat. Kata salah seorang tentara sih “saya lebih siap dan sanggup mengahadapi hujan peluru dan bom dari pada menjadi guru”. Masuk akal memang. Menjadi guru memang “lebih berat” dari pekerjaan yang lain. Berat karena harus menghadapi objek hidup yang dinamis, anak-anak usia remaja dan ABG yang tingkahnya bermacam-macam, dari bawel, rewel, pendiam, hingga supel. Berat karena beban moral yang harus dipikul sebagai pendidik, yang misi utamanya adalah merubah yang jelek jadi baik, yang kurang jadi lebih, mengisi yang kosong dengan kebaikan, dll.
Memang sih, kalo kita menganggap pekerjaan Guru itu berat, maka niscaya kesulitan dan hambatanlah yang akan kita rasakan. Tapi kalau dibawa enjoy, pasti kita akan menemukan sejuta hikmah indah dibalik setiap usaha dan doa kita bersama murid-murid (anak) kita.
Dulu, dulu banget, ketika saya masih usia sekolah, saya sering sekali mengeluhkan apa yang saya temui dan lihat pada guru-guru saya. Ibu yang ini Cuma ngasih tugas dan malas jelasin, bapak yang itu sangar banget, bapak yang itu tegaan dan kejam banget. Pokoknya males dan ogah belajar sama mam itu. Sering kita merasa kecewa pada guru-guru kita. Manusiawi memang.
Nah, sekarang, hari ini, Paradigma “GURU JADUL” sudah semestinya kita “hapus”. Sudah saatnya para guru tampil dengan nuansa yang “sedikit berbeda” namun penuh hikmah. Setuju?
Berikut pendapat saya tentang gimana layaknya guru yang “Gaul”.sekali lagi ini pendapat, jadi mungkin masih banyak kriteria yang belum saya dan temans miliki. Karena itu, yuk kita coba baca dan pikirin.siapa tahu ada benernya dan ada manfaatnya.
Guru gaul itu (nomor urut tidak menentukan skala prioritasnya):
·         Memahami materi yang disampaikan. Artinya siap secara administratif dan kualitas. Jangan sampai tidak memahami apa yang disampaikan pada siswa. Kalaupun suatu ketika memang kebetulan kurang paham, maka JUJURLAH pada siswa, jangan berbohong. Toh kita sebagai guru juga manusia biasa. Bisa jadi khilaf atau lupa.
·         Dari segi penampilan. Guru gaul haruslah rapi, tapi tetap modis. Modis dalam artian pilihan warna pakaian dan kombinasi asesoris yang cocok, tapi tidak norak. Meski pakaian resmi dan batik jadi “seragam” yang wajib, tapi tetaplah, pilihan warna and potongannya mesti sesuai dengan usia, Jangan sampai justru pakaian yang dikenakan malah bikin kita jadi ketuaan (umur 25 tapi keliatan kayak 32, hehehe). Jangan kenakan pakaian yang selalu bermotif gelap. Yang cerah dan bersemangat sesekali perlu dicoba. Potongan rambut, jangan monoton, masa selalu belah tengah/sisir samping. Sesekali model sasak/acak perlu dicoba. Penting loh untuk membuat anak merasa tertarik dengan penampilan kita. Karena kalo ‘outer look’ nya aja udah keren, maka anak-anak akan selalu tertarik untuk dekat dengan kita.
bagi yang akhwat, pilihan warna jilbab dan baju muslimah yang dikenakan mestilah yang bikin anak-anak nyaman melihatnya. Masa hari gini, ustadzah atau ibu gurunya tampilannya jadul hehee. Meski memang banyak batasan bagi perempuan dalam hal berpakaian, namun tidaklah menjadi hambatan untuk tetap tampil maksimal dan segar, dan tetap syar’i.
·         Guru Gaul itu PEDULI dan PERHATIAN. Berusahalah untuk selalu peduli pada anak didik. Dekatlah dengan mereka. Dekat tidak hanya dalam aktifitas belajar dikelas. Tapi juga secara emosional. Berusahalah memahami semua permasalahan mereka, caranya dengan memposisikan kita pada kondisi mereka. Jangan hanya dekat dengan siswa ketika mereka bermasalah.namun ketika mereka bahagia, perlu juga untuk selalu dekat dan menjadi bagian keseharian mereka. Berusahalah untuk tahu dan mengerti segala “trend” yang sedang mereka gandrungi, agar kita bisa mengarahkan mereka supaya tidak salah memilih apa yang mereka suka. MENDENGAR, adalah hal penting yang kadang kita lupakan, dan semestinyalah kita mendengar segala keluh kesah mereka. Menampung segala permasalahan mereka, dan berusaha memberi solusi terbaik dengan cara kita. Tentu jangan lantas menyalahkan mereka padahal kita belum mengerti apa sebenarnya yang mereka rasakan. Jadilah tempat curhat yang baik bagi anak didik. Jangan men-judge anak jika belum mendengar semua cerita dan mengetahui kondisi mereka. Kita dulunya juga seperti mereka kan, bahkan mungkin dulunya kita lebih parah/lebih nakal daripada mereka.
Bagi beberapa siswa, kadang guru yang peduli terkesan “SKSD”, sok ikut campur, sok tahu “sotoy” , cerewet, dll. Namun jangan lantas menyerah ketika dicap begitu. Percaya dan yakinlah, Jika kita memberikan segala kebaikan pada mereka dengan tulus, suatu saat mereka akan menyadari betapa apa yang sudah kita lakukan untuk mereka sangatlah bermanfaat. Kebaikan memang kadang pahit dan berbungkus debu. Bukankah tidak ada obat penyakit parah yang tidak pahit? Pahit namun justru menyembuhkan.
Intinya, jadilah guru yang juga merangkap kakak, abang, ayah, ibu, paman, saudara dan sahabat bagi anak didik kita.

·         Guru Gaul itu Pandai berimprovisasi. Artinya dalam melaksanakan tugas, tidak melulu menggunakan cara-cara lama atau jadul. Cara dan gaya kekinian, yang sesuai dengan usia anak didik, sangatlah dibutuhkan. Dari segi bahasa misalnya: tidak lah mesti selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD,. Penggunaan bahasa gaul, bahasa daerah sesuai dengan yang digunakan anak didik terbukti akan membuat anak didik lebih dekat dengan kita. Tapi meski demikian, bukan berarti lantas melupakan bahasa santun dan formal dalam pembelajaran. Intinya, ketika santai, pakailah bahasa santai dan gaul. Namun ketika dibutuhkan formalitas, maka ‘code switching’ mestilah digunakan dengan sempurna. Sebagai contoh, saya, sering jadi seperti orang yang berumur 17/18 tahun supaya nyambung dengan siswa, namun saat dibutuhkan, saya dengan gampang bisa kembali menjadi guru berusia 25 tahun.

·         Guru gaul tidak berarti tidak pernah marah. Ketika memang dibutuhkan ketegasan, tegaslah! Tetapi ingat, tujuan kita berkeras/tegas semata agar mereka jadi lebih baik, dilandasi rasa sayang dan keikhlasan. Guru yang baik bukan berarti tidak pernah marah. Tapi ingat, setelah tegas, keras, marah atau apapun bistilahnya itu, jelaskanlah pad siswa bahwa kita begitu semata karena sayang, supaya semoga tidak ada dendam dihati siswa. Supaya dia bisa memetik hikmah kebaikan dari apa yang kita lakukan.

·         Guru Gaul itu selalu mengingatkan anak didik agar tidak keluar dari koridor kebaikan. Memang sih, gurupun manusia, tak lepas dari salah. Namun, untuk membuat anak menjadi lebih baik, kenapa mesti menunggu kesempurnaan?

·         Guru Gaul dan baik tidak hanya mengajar, namun juga belajar dari siswa. Belajar dari keluguan dan semua tingkah mereka. Supaya bisa lebih bijaksana dalam menyikapi segala perubahan yang ada pada mereka.

·         Guru Gaul Mesti kudu wajib Melek Tekhnologi. Ini dimaksudkan suapay kita juga tetap bisa memantau perkembangan anak didik tidak hanya di dunia nyata, namun juga didunia maya. Seperti kita sama-sama tahu, pesatnya perkembangan tekhnologi sangat rawan membawa keburukan bagi anak didik yang masih labil dan belum bisa menetukan pilihan terbaik untuk mereka. Pernah dengar gak, “hari gini gak punya facebook? hehehe” . Disamping tujuannya untuk memantau anak didik didunia maya, kita juga bisa menebarkan pesan-pesan kebaikan melalui akun mereka. Disamping itu jug, kita bisa meningkatkan kualitas kita tentang technologi. Facebook hanya salah satu contoh. Masih banyak hal yang terkait technologi informasi yang mesti seorang guru kuasai. Agar tidak jadi GGTGL (Guru Gagap Tekhnologi Gitu Looh..). disamping itu, kita juga bisa bersantai dengan adanya dunia maya.

·         Yang paling utama dari semuanya adalah : Guru Gaul selalu berusaha memperbaiki kualitas diri , hati dan keimanannya, serta selalu mengajak anak didik untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya.

Okay guys,, sampai saat ini itu dulu beberapa definisi dan kriteria GURU GAUL (guru yang baik) versi saya. Sebenarnya masih banyak didalam kepala, hanya tidak semuanya bisa saya bahasakan dalam tulisan ini. Mohon maaf bila tidak sesuai dengan definisi temans semua.
Semoga kita senantiasa belajar dan memperbaiki diri kita. Dan yang terpenting, semoga kita senantiasa tulus dan maksimal dalam mendidik para harapan masa depan kita. Menemani mereka para belahan jiwa kita, saudara dan anak-anak yang tuhan titipkan pada kita.

(Bengkulu, 7 juni 2011, 09.27 WIB)


No comments:

Post a Comment