Sahabat Kecil
Journey to Lebong
Ini adalah catatan perjalanan saya dan beberapa sahabat kecil ke daerah
ujung Propinsi Bengkulu. Lebong.
17 Mei 2011
Hari Ulang tahun
saya.
Petang.
Sejak Siang saya sudah dapat SMS dan telepon dari beberapa sahabat kecil,
isinya : “Ustadz, Ikut ke Lebong?”..,dan bahkan malam harinya saya dapat
telepon dari salah seorang wali murid, Bunda Dhamar (yang kebetulan anaknya sangat akrab sama
saya). Beliau minta bantuan untuk menemani anak-anak yang akan berangkat ke
lebong. Butuh ada yang lebih dewasa untuk menemani dan menjaga mereka selama
perjalanan. Dengan kata lain: minta saya ikut ke Lebong.
Setelah beberapa kali saya pikirkan, akhirnya saya simpulkan : ini kan Hari
Ultah saya, why Not?Saya Ikut. Saya mengiyakan permintaan dan ajakan mereka.
Permasalahannya Cuma satu: Besok (rabu, 18 Mei 2011), saya mesti masuk
sekolah dan kerja. Namun kebetulan belum ada kelas, jadi saya nekad
mengupayakan izin ke pihak struktural. Kalimatnya begini lebih kurangya, “
ustadz Adi yang baik,, ana izin besok ya.., khan ana belum ada kelas,, truss,,
hari ini ana Ultah,.. ana diajak jalan kelebong sama beberapa anak. So, Boleh
ya...?:(..,, anggap aja hadiah Ultah dari antum...”
Belum dapat respon dari Mr. Boss.
Sementara, saya mengiyakan ajakan anak-anak. Menyepakati jam
keberangkatan.
Rabu, 18 Mei
2011
Pagi-pagi saya sudah tiba di sekolah. Begitu ketemu kepala sekolah, niat
saya untuk menyampaikan hajat izin. Tapi ternyata beliau respon duluan sebelum
saya tanya. Dan tentu saja: Saya diizinkan Berangkat. Tapi Cuma satu
hari.....:(. Coba bayangin, perjalanan
dari bengkulu ke lebong aja makan waktu 4-5 jam.mana kuat sopirnya bolak-balik
PP dlm waktu sehari saja.. hikshiks.. gimana dongg???
Hayoo putar otak
lail....(!@!#%$%^&**())!(&^^!&*!(__(*&&_ simbol disebelah
untuk menggambarkan proses otak saya berpikir hehehehe).
Pukul 10.00 WIB
Semua sudah berkumpul di rumah Dhamar. Siap Berangkat.
Ohya, saya belum menceritakan siapa saja yang ikut ya..
Di rombongan kami (satu mobil saja) ada Saya, Dhamar, Arief Ji’unk,Ilham I am, Naufal fhall, nando mungill,, yafie
mungill, dan Jihoo aditya. Sementara lebih pagi dari kami, Jiland mungill,
Fadhli lebonk, Usman Ali, dan Aditya Laka telah berangkat lebih dulu naik
angkutan Travel. Jadi total yang ikut adalah 12 orang. Satu lagi, kak Fadni,
yang setia jadi driver kami. Kebetulan mobil yang kami bawa adalah mobilnya
dhamar. Jadi, drivernya diamanahi oleh Ayah damar untuk menemani perjalanan
ini.adapun alamat yang akan kami tuju adalah Rumah Fadli, yang terletak
dipinggiran kota Lebong. Ohya, Si Fadli hari ini, 18 Mei, juga berulang tahun.
Cuma sehari lebih muda dari saya yang lahir tanggal 17 Mei..(...:^_^...:)
Pukul 10.30an
WIB
TAKE OFF time.
Mobil Avanza meluncur santai dari bandara Dhamar Air Force (....^_^...),,
Didalamnya, Suasana semula santai,, sekitar 15 menit perjalanan,
dimulailah nuansa jalan-jalannya. Kamera dikeluarkan, makanan ringan mulai
menari diujung jari, eskrim,permen, dan tentu saja, Air Mineral untuk mencegah
dehidrasi selama perjalanan yang akan ditempuh selama 4 hingga 5 jam.
Sepanjang perjalanan, suasana gokil di warnai candaan-candaan lucu dan
anti garing dari kami pun terlontar spontan. Mulai dari mengkritisi lagu yang
diputar damar selaku operator, mencandai yafie tentang para penggemarnya, ilham
dengan kalimat khas nggak jelasnya ‘tahu kan?’, hingga tenera yang khas dengan
gaya jakarta gaul yang nggak lucunya. Kontan saja, perjalanan jadi terasa seru
dan menyenangkan. Dan om driver, dengan setianya menjadi nakhoda mobil dengan
teliti dan hati-hati. Sempat beberapa kali berhenti dipinggir jalan untuk
memberi kesempatan bagi yang kelelahan untuk beristirahat sejenak.
Tiba di curup, spontan saja muncul ide untuk mampir di salah satu objek
wisata terkenal di Bengkulu, Danau Mas. Disepakati, mampir sebentar untuk
menikmati makan siang di tepi danau. Sampai disana, niat untuk sholat dzuhur
dan ashar terpaksa dipending, karena tidak ada air bersih yang bisa digunakan.
Sempat heran juga, masa diobjek wisata sekeren ini nggak ada ready stock air
bersih?. Bahkan musholanya terkunci rapat.
Usai menikmati makan siang yang telah dibekali para bunda dari Bengkulu,
agenda dilanjutkan dengan photo-photo dan narsis session di tepi danau. Dan, bagaimana
kalau kita naik perahu saja? Semula beberapa menolak. Alasan mereka, nggak
ah...ini..itu... , padahal pada bokek semua heheheh (masa traveling gak bawa
duit memadai,, hahaha_buka kartu_). Tapi akhirnya bersedia juga deh naik
perahu. Perahu akan mengelilingi danau satu putaran. Tidak seru kalau tanpa kejadian
tidak terduga kan?? Jadilah, di tengah perjalanan mengitari danau, perahu
macet. Mesin tiba-tiba saja mati. Dan kejadian tidak hanya satu kali, tapi dua
kali.bisa bayangkan, gimana cemasnya, baru pertama kali naik perahu didanau
mas, malah ada kejadian yang bikin deg-deg seer seperti ini. Tapi dasarnya
narsis, momen diatas perahu dimanfaatkan dengan tepat dan efektif oleh kami,
para coverboy (hehehe) untuk berpose dengan gaya paling keren, gokil, dan
paling cool. Saya yakin, bapak pengendali perahu pasti mikir “weeww narsis
bangeeett seeh ni orang-orang..!” hehhee.tapi, who cares?
Dan satu lagi, ternyata, semua momen diatas perahu, direkam oleh si yafie
secara diam-diam menggunakan kamera handphonenya (walaupun video didominasi
oleh sendal, kaki, pinggiran kapal, dan air hahaha)..si yafie emang pinter
bikin video amatir, mana gambarnya jungkir balik, muter, miring kiri kanan,
nunggit, hehehe. Benar-benar video amatir paling amatir sejagad raya
hehehe._peace fie_!
Puas menikmati debar-debar perahu macet di danau mas, perjalanan pun kami
lanjutkan. Menuju lebong. Perjalanan masih akan ditempuh sekitar dua jam. Masih
saja, candaan dan lawakan happy terlontar dari mulut-mulut kami, meski sesekali
sempat terlelap. Untung kak fani 9drivernya) nggak terlelap.Kalo terlelap, bisa
bahayun hehehehe..
Pukul setengah 6 petang kami tiba di desa Tujuan. Desa Kota Agung, tempat
domisili ayah dan ibu situan rumah, Fadli.
Desa ini adalah desa yang termasuk paling dekat dengan kaki bukit. Desa
terujung. Suasananya asri, meski jalan rayanya sempit, namun udara segar dan
keramahan cuaca langsung menyambut kami dan membuat kami tersenyum sembari
menghirup udara segar pedesaan, yang tentu saja tidak didapat di perkotaan.
Desa ini dikelilingi oleh dua sungai, satu sungai besar yang membentang
sepanjang sisi jalan raya menuju rumah fadli, satu lagi disepanjang bagian
belakang desa. Sumber air yang cukup dimanfaatkan dengan baik oleh penduduk
setempat untuk irigasi persawahan yang membentang luas dibelakang deretan rumah
yang masih khas nuansa pedesaanya. Selain itu, air pegunungan juga dimanfaatkan
untuk pengembang biakan ikan air tawar. Mulai dari ikan mas, nila, mujair,
lele, hingga ikan patin.
Turun dari mobil, kami langsung disambut senyum ramah khas dari orang
rejang, senyum ramah ibunya fadli. Kamipun langsung berbenah, madni, istirahat
sejenak hingga magrib tiba.
Dan si Jiland, Usman, dan Aditya Laka serta fadli yang telah tiba lebih
dulu, telah menunggu dilantai dua.
Usai sholat magrib dan makan malam, kamipun mengitari desa dengan jalan
kaki, tujuan awalnya untuk beli kartu perdana. Khawatir akan keamanan anak-anak
kota ini, saya pun memutuskan ikut. Sepanjang jalan menuju counter HP, saya
serasa menyusuri jalan dikampung halaman saya sendiri, desa kali di Argamakmur.
Bagaimana tidak, bahasa rejang yang dipakai disana sama persis dialeknya dengan
bahasa rejang desa saya yang menjadi bahasa ayah ibu saya di desa.
Ohya,
disepanjang perjalanan, sempat diwarnai oeh ulah iseng si Jiland yang berkata
“ceweek”, “ayuk..”, pada beberapa gadis desa yang berpapasan dengan kami.
Pulang, nongkrong dihalaman sebentar, kami pun memutuskan untuk
beristirahat di lantai atas. Niat awalnya sih, segera istirahat tidur. Tapi
tidak jadi, agenda dilanjutkan dengan ngobrol ngalor ngidul soal ini itu. Mulai
dari soal persahabatan, cinta, hingga soal hantu.. hii syerem. Dan, si nando
dan i am adalah yang paling setia mendengar saya bercerita pengalaman masa lalu
saat ABG seumuran mereka.
TIDURRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR.............
19 Mei, Kamis
Pagi.
Bangun, sholat subuh, ngobrol lagi, sarapan.
Perjalanan Picnic pun diimulai.
Pukul 9.30 kami pun diantar menuju sungai Air umban. Sungai dengan air
jernih, dingin, dan kemiringan yang lebih dari sungai di perkotaan. Maklu, ini
sungai dikaki bukit, jadi agak curam dan deras.
Kami memilih
bendungan sebagai tempat mandi. Airnya tidak dalam, namun deras.
Dan ini tempat kami bakar ikan. Sebuah Gua dibawah Batu besar tepat
dipinggir sunagi. Sebenarnya bukan kami yang memanggang ikan, tapi bapak yang
menjadi pemandu arah kami.tega ya.. hehehe. Kami justru sibuk seru-seruan mandi
disungai. Menikmati dinginnya air asli kaki bukit.
Ada cerita lucunya juga loh, saat kami memutuskan menyebrangi sungai yang
agak deras, beberapa ketakutan untuk menyebrang, takut hanyut, hehehe..masuk
akan memang, dikota tidak ada sungai yang sederas dan securam ini. Akhirnya,
bergotong royong saya dan fadli membantu yang ketakutan untuk menyebran
(maklum, saya orang kampung juga, jadi sama yang namanya sungai sudah lumayan
akrab, hehe).
Acara mandi kami hentikan sejenak untuk menikmati ikan panggang yang
telah matang. Ditemani nasi putih, sambal, kecap dan beralaskan daun pisang
serta dedaunan lebar yang saya petik dipinggir sungai. Sungguh pengalaman makan
yang alami dan enak. Masing-masing memilih posisi nyaman untuk makan. Tentu
saja, dibebatuan sungai yang besar. Nikmat sekali. Alhamdulillah.
Usai mandi,
phot-photo dan narsisan, kamipun pulang kembali ke rumah fadli.
Istirahat sholat
dhuhur.
Perjalanan kami lanjutkan. Kali ini menuju danau picung. Kurang lebih
setengah jam perjalanan dari rumah fadli. Ditempuh dengan naik mobil pick up
bak terbuka milik ayah fadli. Didanau
picung, kami naik bebek-bebek. Janjinya Cuma sepuluh menit persekali naik, tapi
jadi molor sampai setengah jam persekali naik.
Sepulang dari danau picung, kamipun makan siang dan berkemas. Bersiap-
siap pulang ke bengkulu.
Kembali, senyum khas orang rejang mengantar kepergian kami hingga ke
halaman. Sementara jiland, laka, dan usman, pulang keesokan harinya (hari
jum’at).
Berbeda dengan perjalanan berangkat, kepulangan diwarnai dengan adegan
mabuk-mabukan hehe. Maksudnya ada yang mabuk kendaraan. Si nando, muntah tiga
ronde, diikuti yafi muntah satu kali.
Yang lucu, meski muntah berkali-kali, si nando tetap siap untuk bernyanyi
mengikuti alunan dari car stereo yang diputar damar.masi ingat lagunya
“ hidup ini
mahal bila dipikirkan...nanananannaa”..
Ups, satu lagi, ada yang tidur dimobil sampai ngorok.untuk menjaga
perasaan, maka nama dirahasiakan.
Hehehe
Sementara arief, i am dan naufal asyik nertiga dikursi belakang dengan
semua kegokilannya.
Pukul 21.30an kamipun tiba di kota bengkulu. Pemberhentian pertama adalah
rumah damar. Disini saya dan damar di dro out. Saya pun akhirnya memutuskan
tidak pulang kerumah, tapi menginap dirumah damar. Terlalu capek untuk bawa
motor.
Sahabat kecil dan pembaca sekalian,, itulah selengkapnya laporan
perjalanan piknik kami ke lebong.
Seru memang.
Sangat indah
untuk di kenang.
Jadi hadiah yang
sangat indah untuk saya dan fadli yang berulang tahun hanya satu hari bedanya.
Semoga kita
semua bisa memetik hikmah dari cerita ini.