Pages

Saturday, February 16, 2013

Orkestra Hujan 2

Malam ini...
seperti biasa hujan menari di atas atap
seng apartment nan gelap

malam ini pula, seperti malam - malam yang lalu......
ku nikmati indah setiap alunan nada symphoni nya.....
tik tik tik....

datar..........

kadang berubah nadanya
menuruti hempasan angin nan mengencang menghempas..

hmm....

Orkestra hujan,..begitu aku tetap setia memanggilnya
seperti dia yang masih setia menemani malam-malamku
dan memberi sejuk di siangku..kala jiwaku tersesak panasnya ciuman sang surya nan terik.....

Orkestra hujan,....
selamat malam..
tetaplah nyanyikan nada-nada merdu yang melantunkanku ke alam mimpi...

orkestra malam,
lagu hujan nan gemericik...
symphony keindahan karya sang maestro Alam

Friday, December 28, 2012

Muhasabah Akhir tahun

Hei, it's December 28th,..
Hmm, tak terasa ya, just beberapa puluh jam menuju tahun yang baru...
2013..

hayo refleksi, sudah seperti apakah tahun ini sayang?
indah? suram? galau? happy? Sedih? menyebalkan? flat? atau amazing?....

Sudahlah,.
mungkin sudah banyak tangis tertumpah,
atau telah terlalu pula tawa berlebih melimpah ruah..

atau,,,.
jika kau merasa tahun ini biasa saja,



tahun 2012 pada akhirnya harus berlalu...
karena adeknya sdh siap nongol beberapa hari kedepan.

Evaluasi ya..
bahasa agamanya, MUHASABAH ya...

sudah sebermanfaat apakah kamu ditahun ini?
sudah seberapa beruntungkah kamu jika dibanding tahun yang lalu (2011)?
sudah seberapa langkahkah kamu maju? melangkah dan berlari?
atau sudah sekuat apakah kamu bertahan dalam pedih, meski kamu mesti merayap dalam tertatih...

Muhasabah juga..
apakah kamu sudah dekat dengan sang penciptamu di tahun ini?
apakah kamu sudah mencintainya dalam laku lebih dari kamu mencintai dunia?
Atau jangan-jangan, dalam tak sadarmu kamu malah lebih mencintai musuh-musuhNYA? Musuh-musuh TUHANMU?

Dan..ini juga tak kalah pentingnya,,
Tata kembali hatimu, dan bersiaplah dengan usaha untuk tahun yang baru..

Usaha pembuktian pada dirimu sendiri,
pembuktian pada semua yang sayang atau benci padamu...

pembuktian bahwa kamu bisa membuat mereka yang meyayangimu semakin sayang dan tersenyum bahagia untukmu,
Pembuktian bahwa kamu bisa membalik opini yang membencimu menjadi kekaguman tersurat yang selama ini dengan sekuat tenaga mereka samarkan dibalik tirai kebenciannya padamu...
Pembuktian BAHWA KAMU BISA JADI SOSOK YANG LEBIH BAIK, LEBIH KUAT, DAN LEBIH POSITIF....

itu saja sayang..
muhasabah akhir tahun ini,
semoga kita sepakat, bahwa kita akan berusaha sekuat tenaga menjadi sosok yang lebih baik ditahun depan,
menjadi sosok yang lebih beruntung.
Karena yang beruntung itu adalah yang hidupnya, akhlaknya, dan upayanya, lebih baik..


Saturday, October 20, 2012

Kesungguhan Sang Putra

Kesungguhan Sang Putra

(kisah, dimuat di Islamedia)


“Ya Allah..
Tlg lancarknlah sgala urusan ku..

Sm0ga slama 4 tahun aku kuliah ,, aku dapat melaksanakan sgala tata tertib nya dengan baik ya Allah ..
Amiiinn ...”

“Perjalanan panjang ..”
“Jadwal pagi ni.
Bangun pagi,
Siap" Tahajudan, Sholat Shubuh, Brangkt Ospek”
“Perjuangan demi Kesuksesan dimasa depan ..
Amiin.”

“SEBI is The Best !!!”

“SEBI is School Of Islamic Economics ..”

“Allahu Akbar !!!
Tegakkanlah Islam !!!”

Itulah kata-kata yang ditulis di akun Facebook-nya. Beberapa hari terakhir ini aku sengaja mengikuti. Sepertinya curahan hati yang dalam, penuh makna, menunjukkan suasana kesungguhan. Akupun yang membacanya seakan terbawa emosi, seakan ikut larut pada suasana hatinya. Sebab selama ini aku tahu persis, kondisi seorang Nurahman Saputra (Putra).

Ia anak muda seperti kebanyakan, setelah lulus SMU ingin melanjutkan ke jenjang kuliah. Tetapi tidak dengan perjuangan untuk kebutuhan biaya sekolahnya. Terutama Ibunya, yang hanya seorang Janda dengan dua anak laki-lakinya. Ditinggalkan tanpa dinafkahi oleh Suaminya, ketika Putra masih berumur sekitar 5 tahun. Sejak itu pula Ibunya harus bekerja, membanting tulang sendirian, untuk keperluan hidup dan membesarkan kedua anaknya.

Ibunya terhitung masih saudara dengan istriku, karena ia sepupuan dengan Almarhum Bapak istriku. Tinggal mengontrak di dekat rumah. Ruangan dengan dua petak itu, seakan menjadi tempat terindah bagi mereka bertiga, menjadi tempat berteduh, bercengkerama, bahkan menemani tidur malam mereka, setelah masing-masing lelah menjalani kesehariannya.

Ibunya hampir tiap hari meninggalkan rumah, berkeliling dari rumah ke rumah, dari Saudara ke Saudara, bahkan kadang harus menginap karena jauhnya perjalanan. Untuk menawarkan jasa refleksi atau rias kecantikannya. Pijat refleksi, urut, lulur, atau potong rambut adalah keahliannya. Alhamdulillah… masih ada skill, sehingga ada penghasilan. Walaupun kadang-kadang tidak cukup untuk keperluan makan, uang kontrakan, atau biaya sekolah kedua anaknya. Belum lagi kalau penyakit asmanya kambuh, badannya menjadi lemas, lunglai, tak berdaya maka Ibunya hanya bisa berdiam di rumah.

Untungnya kedua anaknya tidaklah manja. Putra misalnya, Ia pun mempunyai keahlian yang sama dengan Ibunya, yaitu pijat refleksi. Untuk menambah uang saku Ia sering menawarkan jasa refleksinya. Termasuk ke aku, Ia sering memijat refleksi. Aku tahu…, ketika Ia mengirim SMS ke HP Istri aku atau ke aku menawarkan refleksinya, artinya ia sedang ada perlu biaya lebih. Baik untuk keperluan sekolah lainnya, atau ongkos naik angkot ke sekolah. Atau untuk membeli pulsa, dari HP yang ia peroleh dari hasil membantu pekerjaan di rumah Saudara yang lain, selama liburan sekolah. Disaat anak sekolah yang lain menghabiskan liburannya untuk bermain. Putra memilih bekerja, apa saja yang bisa dikerjakan, maka tak segan Ia lakukan, pekerjaan rumah tangga sekalipun.

Adiknya Putra juga demikian, Fery, kelas 2 SMK, ke sekolah naik sepeda. Untuk menghemat ongkos katanya. Karena sekolahnya siang, maka setiap pagi Ia membantu-bantu dulu di rumahku. Entah itu menjemur, mencuci motor, membersihkan tanaman, atau menyapu. Ia cukup senang punya uang dari hasil keringatnya sendiri. Atau kadang-kadang Fery ikut menemani anak-anakku bermain, ketika istriku juga sedang ada keperluan keluar rumah. Dari uangnya itu, Fery juga memelihara ayam kampung. Yang sekarang sudah beranak-pinak cukup banyak.

Awalnya setelah lulus SMK tahun ini, Putra bertekad bulat untuk bekerja. Membantu perekonomian keluarganya, mencari tambahan uang, karena memang Ibunya juga sudah berumur, badannya sudah tidak cukup kuat lagi bekerja. Putra banyak mencari informasi lowongan pekerjaan. Tidak sedikit lamaran pekerjaan Ia kirimkan. Pernah interview walaupun cukup jauh tempatnya, ia jalani. Sayang keberuntungan belum berpihak, sehingga tidak lolos diterima untuk bekerja.

Disela-sela memijat refleksi, aku menawarkan untuk kuliah beasiswa di SEBI. Kebetulan ada seorang ikhwan disana yang aku kenal, menawarkan program bea siswa dari salah satu Bank Pemerintah, untuk bersekolah di kampus ini. Syaratnya adalah cukup ada rekomendasi dari kader, dan tentunya dengan syarat akademik lainnya. Semula Putra tidak mau, ia tetap ingin bekerja. Tetapi setelah aku yakinkan tentang perlunya ‘orang yang berpendidikan itu lebih mulia’ maka ia mau mencoba ikut ujian seleksinya.

“Untuk biaya ujiannya… Mas bantu deh…” Demikian aku menyemangati Putra untuk ikut mencoba ujian seleksi.

Setelah melihat syarat-syaratnya di Internet, Putra bersungguh-sungguhnya untuk mencoba, termasuk sering bertanya tentang soal-soal yang nantinya kira-kira akan diujikan. Karena tahap ujiannya cukup banyak. Psikotes, ujian tulis, tes baca qur’an, dan terakhir wawancara. Untuk sementara beberapa panggilan interview ia tinggalkan, karena memilih fokus untuk ikut ujian.

Ujian psikotes lulus, berikutnya ujian tulis. Pada saat ini, aku sempat menghubungi rekan ikhwan yang ada di kampus itu. Rekanku mengatakan… Alhamdulillah, nilainya tinggi, ia lolos. Berita ini aku sampaikan ke Istri, lalu istri menyampaikan ke Ibunya, dia langsung bersujud syukur. Tetapi aku berpesan, supaya jangan diberitahukan dulu ke Putra, karena pengumuman resminya baru hari besoknya. Ibunya menangis gembira…

Tinggal menunuggu tes terakhir yaitu wawancara. Wawancara ini untuk menentukan besarnya beasiswa, sebab tidak semuanya memperoleh beasiswa 100%, ada yang 75%, atau 50%, tergantung nanti dari hasil tes wawancara dengan pihak user.
Ada pemberitahuan ke Putra, wawancara dengan salah satu Durektur Bank Pemerintah penyedia beasiswa tersebut. Hatinya berdegub kencang. Tidak menyangka harus berhadapan dengan seorang Direktur Bank. Sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya, maka membuat hatinya berdegub kencang.

Hari-hari menunggu wawancara, Putra sering main ke rumahku. Aku berpesan, bahwa saat wawancara nanti, usahakan tenang, rileks, jujur, dan apa adanya saja. Ungkapkan juga bahwa, kalau Putra tidak dapat beasiswa yang 100%, maka Ia memilih bekerja saja. Sebab, Ibunya juga mewanti-wanti tidak akan sanggup menanggung sisa biaya kuliahnya, kalau tidak ditanggung 100%.

Hasil wawancara, Putra lolos untuk yang memperoleh beasiswa 100%. Ia termasuk dari 40 orang yang dapat beasiswa penuh. Maka…, dengan rasa syukur Ia menyambut kenikmatan itu. Dan sejak itu Ia bertekad ingin menjadi orang yang berpendidikan, yang ingin membahagiakan Ibunya.

Dan terakhir, sebelum mengikuti ospek di kampusnya kemarin. Putra mengirim SMS ke HP istri saya, mohon izin, restu dari Istri dan Aku untuk mulai kuliah besoknya. Karena program kuliahnya yang mengharuskan menginap di asrama kampus, maka lama nanti tidak bertemu dengan kami. Termasuk, karena juga harus mengelola keuangan di salah satu masjid yang ada disekitar kampus. Dan dari mengelola keuangan masjid itu, maka mendapat uang saku setiap bulannya.

Akupun memberi komentar di salah satu status di Facebook-nya…
“Bersungguh2lah Putra, Mas turut berdo’a… “

Dan dijawab oleh Putra,
“Terima kasih Mas, atas smua kebaikannya…”


Jakarta, 20 September 2011
Abu Fathi

COPAS dari Sumber yang bermanfaat :   http://halik-amin.blogspot.com/2012/03/kesungguhan-sang-putra.html

Wednesday, October 17, 2012

orkestra melankolis

Andaikan bulan bisa ngomong
mungkin dia tidak hanya akan ngomong tapi tertawa..
terbahak-bahak...
menertawai ku yang keras kepala....
menertawaiku yang idealis
menertawai ku yang bergelora
menertawaiku dengan segala lemahku
andaikan bulan bisa bicara....

andaikan bulan bisa menulis,
mungkin sudah penuh halaman beranda langit malam..
dengan kalimat kalimat tentangku
yang selalu sok teguh
yang selalu sok kokoh
yang selalu sok tegar

tapi syukurlah bulan tidak bisa melakukan dua hal itu...
syukurlah..
cukuplah manusia saja.
cukuplah mereka.

Sakit kah?

Rabu, 17 Oktober 2012..

Sengaja nggak masuk.
sudah izin sih.

Demam.
tadi malam.
sakit kepala, kemaren petang.
kaget, kemaren pagi.
agak sakit hati kemaren sore
kecewa
kemaren petang.

enggan.
pagi ini.




Thursday, October 4, 2012

Budaya Negatif Orang Indonesia Menurut Orang Jepang

Budaya Negatif Orang Indonesia Menurut Orang Jepang

Prof Nagano, staf pengajar Nihon University memberikan kuliah
intensive course dalam bidang Asian Agriculturedi IDEC Hiroshima
University.
Beliau sering menjadi konsultan pertanian di negara-negara Asia
termasuk Indonesia. Ada beberapa hal yang menggelitik yang
utarakannya sewaktu membahas tentang Indonesia:
1.Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam.
Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan
konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian
diskusi berulang kali,saling kritik, dan merasa idenya yang paling
benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal tujuannya
program tersebut sebetulnya baik.
2. Budaya Jam Karet
Selain dari beliau, saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang
asing yang pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang
menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab :
Jam Karet! Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati.Sudah
sebegitu parahkah disiplin kita?
3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?)
Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakansekarang kenapa
ditunda besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya
sendiri tentang orang Indonesia. Beliau mengatakan, Orang Indonesia
mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.
4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan
Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para
petani, pendampingnya dari direktorat pertanian datang dengan safari
lengkap padahal beliau sudah datang dengan work wear beserta sepatu
boot.
Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke
lapang, kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang
berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat
sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau
turun langsung ke lapangan.
Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina-
bobokan oleh istilah indonesia kaya,masyarakatnya suka gotong royong,
ada pancasila,agamanya kuat, dan lain-lain.Dan itu hanyalah istilah,
kenyataannya bisa kita lihat sendiri.
Ternyata negarakita hancur-hancuran, bahkan susah
untuk recovery lagi, mana sifat gotong royong yang membuat negara
seperti Korea, bisa bangkit kembali. Kita selalu senang dengan
istilah tanpa action. Kita terlalu banyak diskusi,saling lontar ide,
kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum
apa-apa sudah ramai duluan.
Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurang an kita
dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum
terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya
sudah mencapai titik minimal untuk disebut negara beradab dan tetap
terbelakang disegala bidang.
Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua,
terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu
merubah diri untuk menjadi yang lebih baik.
Semoga kita bisa memperbaiki Citra ini dengan sikap 3 M (mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari yang terkecil).
MUHAMMAD ASEP ZAELANI,
Mahasiswa S-2 Ekonomi Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung
asep.bdg@pnm.co.id

Sumber :  http://lateralbandung.wordpress.com/2007/07/26/budaya-negatif-orang-indonesia-menurut-orang-jepang/

Friday, September 28, 2012

MEMETIK HIKMAH



MEMETIK HIKMAH

Dear readers..
Hmm. Malam jum’at. 
21.45 WIB.
Siap-siap tidur.
Sambil mendengarkan mp3 yang randomly played di Laptop saya, tiba-tiba saja ingin mengutak-atik atau mengetuk-ngetuk barisan huruf  di bawah monitor laptop.
Hmm...beberapa hari belakangan ini ada beberapa pelajaran penting yang bisa saya petik dari kehidupan saya pribadi.
Walau sekedar oret-oret, berikut ini beberapa pelajaran dan hikmah berharga yang bisa saya ambil dari seabrek peristiwa dwi minggu belakangan ini:
1.      Sabar.

Kenapa sabar? Karena memang beberapa hari ini kesabaran saya sepertinya sungguh sedang di uji oleh ALLAH SWT. Nyaris setiap hari ada saja ulah murid-murid yang memancing rasa kesal dan nyerempet nyerempet kearah kemarahan. Mulai dari ribut saat pembelajaran, berantem (berkelahi) dan lainnya. Tapi Alhamdulillah, meski kadang sempat gusar, saat semestinya (maksud saya “biasanyaJ ) saya marah, saya masih bisa menahan emosi agar tidak meledak..Alhamdulillah..

2.      Bersyukur..

Dengan begitu banyak problema yang saya hadapi (baik dalam dunia kerja maupun kehidupan pribadi), satu-satunya pilihan terbaik bagi saya hanyalah bersyukur. Bersyukur karena emang itu pilihan terbaik, dibanding menyesali diri dan menyalahkan tuhan. J

3.      Kuatkan diri..

Ohya, dalam jangka waktu dua pekan belakangan ini, keluarga saya sedang di uji oleh ALLAH SWT. Ibu saya pada akhirnya harus menjalani operasi pengangkatan tumor payudara yang membengkakkan dada sebelah kirinya. Selama kurang lebih sekitar 9 hari (saya lupa jumlah harinya) ibu saya harus di inapkan di rumah sakit. Selama itu pula kami sekeluarga menjaganya di rumah sakit, mulai dari tahap observasi hingga masa operasi. Dan ada satu moment yang sungguh menuntut kekuatan hati, Yaitu ketika saya dan dua kakak perempuan saya harus memegang ibu yang meronta-ronta karena sakit setelah operasi. Ibu yang masih dalam kondisi belum sadar penuh akibat  pengaruh bius total saat operasi, berteriak-teriak kesakitan. Dan saya satu-satunya anak laki-laki yang mau tidak mau harus menguatkan hati saya menguatkan ibu. Sungguh sebenarnya saya jauh dari tega dan sangat tidak kuat melihat ibu menangis dan meronta sakit seperti itu, namun harus saya kuatkan. Dan Alhamdulillah saya tidak menangis di depan ibu. Meski akhirnya air mata saya tumpah juga di luar ruangan/bangsal rumah sakit ( Saya berlari keluar ruangan beberapa detik untuk membiarkan airmata saya tumpah dan menyekanya, kemudian berpura-pura kuat kembali didepan ibu). Sungguh dramatis saat itu. Saya sempat berpikir bahwa ini adalah akhir. Namun dokter dan para perawat menguatkan. Kata mereka itu pengaruh obat bius. Entah itu hanya di ucapkan untuk memberi kami semua kekuatan atau tidak, yang jelas saya dan kakak-kakak saya harus kuat dan siap dengan segala kemungkinan. Saya juga harus menguatkan diri melihat gumpalan daging yang diangkat dari tubuh ibu, saat berhadapan dengan dokter dan asistennya. Kata mereka kemungkinan tumornya ganas. Oleh karena itu semua daging yang diangkat akan dikirim ke Bandung untuk di uji laboratorium agar bisa di ketahui apakah ini memang tumor ganas atau jinak. Namun saya berprasangka positif saja, sekali lagi untuk menguatkan hati, dan sekaligus berharap hasil lab nantinya bahwa ini tumor jinak.
Dan sekali lagi, saya membuktikan bahwa Ayah saya adalah sosok  jagoan yang saat kuat. Tidak sedikitpun beliau memperlihatkan airmatanya didepan kami, walau saya tahu, beliau terisak saat sholat di mushollah rumah sakit. Dan kakak saya yang paling tua, sekali lagi membuktikan betapa tegar dan kuatnya dia menghadapi semua ujian ini, meski dia adalah seorang perempuan beranak kecil yang masih balita. Kesetiaanya menemani ibu setiap hari di rumah sakit bahkan membuatnya rela meninggalkan pekerjaannya sebagai guru PAUD selama beberapa hari.
Dan dari semua itu, saya pun menyimpulkan bahwa seberat apapun ujian dari tuhan, kita mestilah kuat menghadapinya. Karena ALLAH SWT tidak membebani kita dengan apa yang tidak mampu kita hadapi, meski pada akhirnya keputusanNYA lah yang berlaku atas semua makhlukNya.

4.      Jangan menghilangkan senyum seharipun dari wajahmu.

Ini pelajaran atau hikmah terakhir yang saya share malam ini. Meski sekuat apapun ujian dan penderitaan, kita tetap mesti harus tersenyum.  Bukankah kebahagiaan kebahagiaan besar di mulai dari senyum kecil? Meski kadang senyum itu harus dipaksakan...
Keberadaan, Celetukan, surhatan dan bakhan  canda tawa dari  murid-muridpun ternyata mampu mengalihkan perhatian dan pikiran saya dari rasa takut kehilangan dan kecemasan serta kegelisahan dalam kesedihan. Meski hanya beberapa saat saja. Terimakasih untuk murid-murid yang sangat pandai membaca perubahan raut wajah saya. Dan jujur, semua celotehan dan keisengan kalian itu seringkali membuat saya tersenyum dan lupa akan beratnya beban hidup yang tuhan titipan pada perasaan saya.

Semoga kita semua bisa memetik hikmah dari hasil ketukan tuts saya kali ini.

Udem yoo... itu dulu malam ini,, kapan kapan kita lanjut lagi. J


Bed time is coming.
Selamat malam.
Waswb.