EPISODE
– EPISODE AL BANNA
By: Lailatul Qadar
Bagian
II
THE NEW ADVENTURE BEGINS
THE NEW ADVENTURE BEGINS
Setelah
pengumuman kelulusan SPMB di terima oleh keluarga besarku di kampung, semua bahagia.
Bahagia karena satu harapan keluarga
telah terwujud. Menembus perguruan tinggi negeri, adalah satu hal yang dapat di
kategorikan langka di desaku. Aku adalah salah satu dari tiga orang pertama
yang berhasil lulus SPMB di perguruan tinggi negeri dari desaku, apalagi
berhasil masuk di Universitas Bengkulu. Sesuatu yang belum pernah ada di desaku. Pengumuman SPMB
yang sangat kami syukuri, walau usaha dan tekad nekadku dan keluargaku sempat
pula menuai kritik, cacian dan cemoohan dari beberapa gelintir orang desa yang
kurang mendukung.
Syukur dan
puas pula dirasa oleh kakak-kakakku. Karena, dari yang wo Hira ceritakan
padaku, betapa teman-teman seperjuangannya di ladang, di kebun, dan di
pertemuan-pertemuan lain selalu mengolok-olok niatku. Menurut mereka, sangat
tidak mungkin bagi seorang Husein, yang berasal dari keluarga miskin mampu
masuk dan kuliah di Unib. Ada pula yang berpendapat bahwa Aku adalah anak yang tidak tahu diri, tidak
ukur kemampuan orang tua. Dan setiap
kali pula kakakku harus bersabar menjawab olok – olok itu, dan bahkan
kadang dengan ketus pula, karena gusar
dan sebel atas olok-olok bodoh yang
mereka berikan. Cemooh dan anggapan remeh pun muncul dari teman-teman sebayaku.
Malah sejak kuputuskan ikut SPMB.
“ Jadi
kuliah? Lulus? Wah lain yang calon sarjana koh”
sindir mereka,
“ Bahasa
inggris jurusan nmak nu? Mau maunya nanti jadi guru ya? S.Pd kan
gelarnya..,, nanti jadi S.Pd, Kepanjangannya, Sarjana Pulang Dusun,..hahahah” ,
begitu cemoohan mereka. Bikin sakit hati. Tak bisa saya lupa hingga kini.
Tapi
sekali lagi, semua kesabaran itu terbayar sudah.
Namun
permasalahan sebenarnya baru saja dimulai.
Beberapa hari setelah pengumuman, Amak dan Abak sempat kelabakan juga, karena
ternyata tidak ada sepeser uangpun yang dimiliki untuk membiayai uang pangkal kuliah, termasuk SPP dan biaya
sewa rumah yang harus dibereskan semuanya hingga akhir bulan Agustus 2004,
karena masa perkuliahan dimulai di minggu terakhir bulan ini. Uang pangkal yang
ketika itu jumlahnya empat jutaan saja terasa sangat berat. Apalagi ditengah
inflasi perekonomian keluarga yang tidak kunjung membaik.
Tergerak
dari kondisi ini, akhirnya muncul solusi dari amak. Solusi yang sebenarnya
klasik bagi orang-orang dengan kondisi perekonomian yang selalu anjlok. Ya, apa
lagi jika bukan pinjam kiri-kanan. Gali lobang tutup lobang, itu kata Rhoma
Irama. Jadilah akhirnya Amak menghubungi beberapa nama. Yang pertama adalah Tamang Mahmud. Adek kandung Amak yang
tinggal di kampungku juga. Namun apa dinyana, niat tulus malah dibalas komentar
tak sedap. Ternyata si Tamang, yang saat itu sedang bekerja di korea, kurang
mendukung niatku untuk melanjutkan ke kuliah. Malah melalui telepon, Aku
mendapatkan sedikit saran (- hujatan lebih tepatnya-) dari beliau,
“ Husein,
kamu ini coa mabo tukuk,.. kamu tahu kan orang tuamu bukanlah orang
kaya? Kamu juga tahukan kuliah itu tidak murah? Mahal! Apa kamu tidak kepikiran
bagaimana orang tuamu membayar biaya kuliahmu nanti? Kan kamu juga tahu
orangtuamu banyak hutang? Sungguh tidak sadar diri kamu ini”. Begitu ceramahnya
ketika itu. Kubalas saja dengan helaan nafas berat dan istighfar didalam hati.
Alternatif
pertama gagal.
Alternatif
kedua, Dang Udin. Sepupu ku yang juga baru pulang dari korea ketika itu.
Program TKI membuat nasibnya lebih beruntung daripada kakak-kakak dan sepupuku
yang lain. Besar harapanku untuk mendapatkan bantuan ketika itu. Kupikir beliau
kan masih muda, dan lumayan sukses pula secara finansial. Pasti pikiran dan semangatnya
minimal samalah sepertiku.
Tapi
beginilah jawabannya ketika niat untuk pinjam uang di utarakan orangtuaku,
“Waduh,
maaf Wak,
saya juga lagi nggak ada uang. Sepertinya saya tidak bisa membantu secara
materiil. Namun do’a saya tetap saya berikan untuk Husein. Semoga sukses.”
Lebih
menyakitkan ketika aku bertemu dengannya
di pertigaan Siti Khadijah Argamakmur,
“ Sein,
gimana kuliahmu? Jadi?”
“Insya Allah
Dang.” Jawabku ringkas
“ Sudah
dipikrkan matang-matang belum? Saran dang sih tolong dipikirkan lagi baik-baik.
Jangan sampai putus ditengah jalan kuliahmu nanti. Biaya kuliah dan biaya hidup
di kota lebih mahal lho. Jangan sampai kamu kecewa, orangtuamu pun ikut kecewa
nantinya. Sudah banyak contoh anak desa kita yang putus kuliah karena tidak
mampu membiayai kan? Mendingan kamu cari kerjaan aja. Bisa bantu orang tua.
Berpenghasilan!” Panjang lebar nasehat dan solusi yang tidak kuharapkan itu ia
sampaikan.
Kesimpulannya,
alternatif kedua gagal juga. Sama seperti yang pertama. Sabar.
Alternatif
terakhir. Cik Wani. Adik paling bungsu ibuku yang tinggal di Ipuh, kota
kecil di sebelah utara jauh Bengkulu Utara. Tersenyum hatiku mendengar
responnya, ketika di hubungi via telepon oleh orang tuaku.
“ Mujua
da kalau lulus. Cik Senang sekali. Oh iya, berapa kira-kira yang di
butuhkan ya?. Cik bersedia bantu, kebetulan ada sedikit simpanan dana di
tabungan. Nanti cik transfer ke rekening Wo
DA mu ya.”
Alhamdulillah.
Bantuan itu datang juga. Tidak penuh.
Cik Wani membantu dua juta rupiah. Tanpa batas waktu untuk pengembalian.
Berarti masih kurang sekitar dua jutaan lagi. Satu juta kekurangan untuk uang
pagkal, satu jutaan untuk keperluan sewa kosan dan biaya hidup di bulan pertama. Dan akhirnya kekurangan dana dipenuhi dengan cara patungan oleh segenap
kakak dan orang tuaku.
Esoknya
Aku langsung ke sekolah dan Puskesmas untuk mengurusi segala keperluan administrasi yang
dibutuhkan. Mulai dari Surat keterangan lulus, Daftar nilai ujian sementara,
copy ijazah, pasphoto, Surat keterangan Sehat, serta surat keterangan
berkelakuan baik.
Setelah
semua persyaratan administrasi dan uang yang dibutuhkan tercukupi, Aku dan wo
Da pun berangkat ke kota Bengkulu untuk mendaftar ulang serta registrasi Masa
orientasi Mahasiswa. Antrian panjangpun harus di ikuti. Ternyata peminat
Universitas Bengkulu banyak dan berjubel. Dari proses antrian hingga pembayaran
ternyata tidak bisa selesai satu hari. Jadilah hari kedua, didampingi Abak,
akupun kembali untuk antri pembayaran, pemotretan ulang, serta tes golongan
darah, sesuai prosedur. Sangat melelahkan harus antri bersama ribuan calon
mahasiswa baru yang juga punya mimpi sama denganku. Tidak lupa pula aku
langsung registrasi kegiatan PKK (Pengenalan Kehidupan Kampus) yang menjadi agenda
wajib ikut bagi setiap mahasiswa baru.
Selanjutnya,
proses mencari kos-kosan. Cukup melelahkan usaha mencari tempat tinggal yang
layak, sederhana, namun murah dan sesuai dengan budgeting yang ada dalam kantong.
Namun tidak juga di dapat kos-kosan yang sesuai dengan kriteria dompet.
Akhirnya diputuskan, selama masa Orientasi Aku numpang dulu di rumah Wo Neng.
Sepupuku yang kuliah di STAIN. Dia tinggal bersama suami dan anaknya. Kontrakan
juga. Jarak dari calon kampusku adalah dua kali naik angkot. Lumayan jauh.
Sementara ini,
persoalan awal terselesaikan. Atau lebih tepatnya dianggap selesai. Tinggal
permasalahan kosan lagi. Sambil menunggu Masa PKK, Aku akan cari kosan sebagai
tempat tinggal nantinya. Masih ada beberapa hari menjelang hari pertama PKK a.k.a OSPEK mulai. Persiapan mental
dan kesehatan harus di utamakan.
Begitu
pesan amakku.
_______________To
Be Continued________________
Vocabluaries:
-
Coa mabo tukuk (tidak meraba tengkuk/kuduk sendiri) : Istilah dalam bahasa rejang
yang berarti tidak sadar dengan kemampuan diri. Terlalu besar keinginan.
-
Tamang : Paman
-
Wak : panggilan untuk kakak
dari ibu/ayah
-
Cik : Bibi/tante
-
Mujua da: Syukurlah
( bahasa rejang)
-
Koh / ko : nih (bahasa Bengkulu)
-
Nian : Sangat/sekali
-
Bahasa inggris jurusan nmak nu : Bahasa
inggris jurusan yang kamu ambil?
*****ini
adalah bagian kedua cerita biografi saya (semoga nantinya bisa jadi sebuah
NoveGrafi (Novel Biografi), aamiin) EPISODE-EPISODE ALBANNA. Bagian pertama
adalah SEMUA BERAWAL DARI ANGKET, dapat di baca pada bagian lain Note saya di
facebook ini. Banyak cerita menarik hidup kita yang kita alami, akan lebih
indah bila kita bagi dengan yang lain.
Sekali lagi, semoga kita bisa memetik hikmahnya.*******
No comments:
Post a Comment